BritaTOP.Com, KENDARI – Gelombang penyalahgunaan narkoba yang terus bergerak mengikuti dinamika sosial menempatkan perguruan tinggi pada posisi strategis dalam upaya pencegahan. Di Sulawesi Tenggara, ancaman tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari jaringan pengedar yang semakin terorganisir hingga meningkatnya jumlah pengguna di kelompok usia produktif. Situasi ini menjadi latar belakang penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara dan STIE Enam Enam Kendari.
BNNP Sultra menilai delapan indikator karakteristik pokok, seperti meningkatnya kasus kejahatan narkoba, tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, keberadaan bandar, aktivitas produksi, jumlah pengguna yang terus bertambah, meningkatnya barang bukti, beragamnya jalur masuk narkoba, dan maraknya aktivitas kurir, menunjukkan bahwa ancaman narkotika kini berada pada tahap serius.
Indikator pendukung seperti menjamurnya lokasi hiburan, tingginya privasi tempat kos, angka prevalensi yang tinggi, kurang memadainya sarana publik, serta menurunnya interaksi sosial turut mempertegas risiko yang harus dihadapi.
Ketua STIE Enam Enam Kendari, Prof. Dr. H. Abdul Azis Muthalib, S.E., M.S., menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkoba. “Perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan integritas. Karena itu, kami berkewajiban melindungi mahasiswa dari ancaman narkotika,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa narkoba bukan hanya merusak individu, tetapi juga menggerus daya saing dan melemahkan masa depan daerah.
Melalui kerja sama ini, kedua lembaga sepakat memperkuat empat poros strategis, yaitu pencegahan dan edukasi melalui seminar dan pembinaan, penguatan program Kampus Bersinar, pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat terkait pemberantasan narkotika, serta pengembangan kapasitas mahasiswa agar tumbuh sebagai generasi berintegritas. “MoU ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Harus ada langkah nyata yang konsisten dan berkelanjutan,” tegas Prof. Azis.

Plh Kepala BNNP Sultra, Agustinus Widdy Harsono, S.Kom., M.Si., menyambut baik kerja sama tersebut dan menyebutnya sebagai langkah strategis dalam menghadapi jaringan narkoba yang semakin terstruktur. “Perang melawan narkoba adalah tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Jaringan narkotika hari ini semakin terstruktur dan tidak bisa dihadapi sendirian,” ujarnya. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran kunci dalam membangun ketahanan remaja anti narkoba, terutama karena mahasiswa termasuk kelompok usia yang paling rentan menjadi sasaran.
Agustinus berharap kerja sama ini dapat mengoptimalkan berbagai sumber daya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas narkoba. “Kami ingin menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar bersih dari narkoba melalui penguatan program P4GN dan Kampus Bersinar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa soliditas, integritas, dan sinergitas antarlembaga menjadi fondasi penting menghadapi ancaman narkotika yang semakin dinamis dan sulit diprediksi.

Aliansi antara STIE Enam Enam Kendari dan BNNP Sultra ini menjadi penegasan bahwa perang melawan narkoba kini bergerak ke arah pencegahan berbasis pendidikan dan penguatan karakter. Di tengah arus perubahan sosial, kampus diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga benteng yang membentuk ketahanan mental mahasiswa. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan generasi muda tidak mudah terseret dalam ancaman penyalahgunaan narkotika yang terus membayangi. (Red)
Tidak ada komentar