BritaTOP.Com, KENDARI – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar terus dilakukan melalui penguatan kompetensi guru, termasuk dalam pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari proses belajar mengajar.
Hal tersebut menjadi perhatian tim peneliti dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) melalui kegiatan Penelitian Dasar Internal yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12 Kendari, selama 8 Juni hingga 10 Juli 2026.
Penelitian tersebut mengangkat judul “Implementasi Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dalam Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar.”
Penelitian ini dilakukan oleh tim yang terdiri dari Dr. Muhammad Abas, S.Pd., M.Si., sebagai ketua, bersama Dr. La Ode Safiun Arihi, S.Pd., M.Pd., Dra. Yoo Eka Yana Kansil, M.Pd., Mansyur M., S.Pd., M.Pd., Hikmawati, S.Pd., M.Pd., serta Dr. Sarnely Uge, S.Pd., M.Pd., sebagai anggota.
Selain melibatkan dosen, penelitian tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Nurtasya Jayanti, Sri Rahma Wati, dan Devi Aswa Medha.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Muhammad Abas, S.Pd., M.Si., menjelaskan penelitian tersebut bertujuan mendeskripsikan bagaimana penerapan TPACK dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di tingkat sekolah dasar, khususnya di SDN 12 Kendari.
Menurutnya, TPACK merupakan salah satu kerangka yang penting dalam pembelajaran di era digital karena menempatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi, pedagogik, dan materi pembelajaran secara bersamaan.
“Penelitian ini difokuskan pada kemampuan guru dalam mengintegrasikan pengetahuan teknologi atau Technological Knowledge (TK), pengetahuan pedagogik atau Pedagogical Knowledge (PK), serta pengetahuan materi atau Content Knowledge (CK), beserta kombinasi ketiganya yang membentuk kerangka TPACK,” jelas Muhammad Abas.
Ia menambahkan, penelitian tersebut tidak hanya melihat sejauh mana guru menggunakan perangkat teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat penerapan TPACK di lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari tiga guru IPAS yang mengajar di kelas IV, V, dan VI SDN 12 Kendari.
Ketiga guru tersebut dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Sementara data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta pengisian instrumen implementasi TPACK.
Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui beberapa tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan.
Untuk memastikan keabsahan data, tim peneliti menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member check.
*Temuan Berbeda pada Tiga Tingkatan Kelas*
Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa penerapan TPACK di SDN 12 Kendari belum merata pada setiap guru.
Guru kelas IV tercatat memiliki tingkat implementasi TPACK dalam kategori tinggi. Sementara guru kelas V berada pada kategori sedang, sedangkan guru kelas VI berada pada kategori rendah.
Meski demikian, secara umum seluruh guru yang menjadi subjek penelitian telah memiliki penguasaan materi pembelajaran (Content Knowledge/CK) dan kemampuan pedagogik (Pedagogical Knowledge/PK) yang baik.
Perbedaan lebih terlihat pada aspek penguasaan dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Khususnya pada aspek Technological Knowledge (TK), Technological Content Knowledge (TCK), Technological Pedagogical Knowledge (TPK), hingga kemampuan mengintegrasikan keseluruhan unsur tersebut dalam kerangka TPACK.
“Guru dengan kompetensi digital yang lebih baik mampu merancang pembelajaran yang lebih interaktif dan memanfaatkan media digital secara optimal dibandingkan guru yang kurang menguasai teknologi,” ungkapnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengintegrasikan teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan materi atau pengalaman mengajar, tetapi juga berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam beradaptasi terhadap perkembangan teknologi pembelajaran.
*Pengalaman Mengajar Bukan Satu-satunya Faktor*
Penelitian juga menemukan sejumlah faktor yang memengaruhi penerapan TPACK dalam proses pembelajaran IPAS.
Faktor tersebut antara lain kompetensi digital guru, pengalaman mengikuti pelatihan, kesiapan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, ketersediaan perangkat pembelajaran, kualitas jaringan internet, hingga dukungan dari pihak sekolah.
Salah satu temuan yang cukup menarik adalah lama pengalaman mengajar tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi.
Guru yang memiliki kompetensi digital tinggi dan kemauan belajar yang kuat justru dapat menunjukkan kemampuan implementasi TPACK yang lebih baik dibandingkan guru yang memiliki masa kerja lebih lama, tetapi belum terbiasa menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran.
Hal ini memperlihatkan bahwa penguatan kompetensi digital guru perlu dilakukan secara berkelanjutan, tanpa hanya mengandalkan pengalaman mengajar.
Guru membutuhkan ruang untuk terus belajar, mencoba berbagai perangkat dan media pembelajaran digital, serta memperoleh pendampingan agar penggunaan teknologi benar-benar mendukung tujuan pembelajaran.
*Perlu Penguatan Kompetensi Guru*
Berdasarkan hasil penelitian, tim menyimpulkan bahwa implementasi TPACK dalam pembelajaran IPAS di SDN 12 Kendari telah mulai diterapkan, namun belum berjalan secara optimal dan masih membutuhkan penguatan.
Peningkatan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan berkelanjutan bagi guru, pendampingan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran, penguatan komunitas belajar guru, serta penyediaan sarana dan prasarana digital yang memadai.
Penguatan tersebut dinilai penting karena penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat digital. Guru juga perlu memiliki kemampuan memilih teknologi yang sesuai dengan materi, karakteristik peserta didik, serta metode pembelajaran yang digunakan.
Dengan integrasi yang tepat, teknologi dapat membantu menciptakan pembelajaran IPAS yang lebih interaktif, inovatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era pendidikan abad ke-21.
Muhammad Abas berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi sekolah maupun pemangku kepentingan pendidikan dalam menyusun strategi peningkatan kompetensi guru.
“Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi sekolah, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan tenaga kependidikan dalam merancang program peningkatan kompetensi guru berbasis teknologi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SDN 12 Kendari, Sariwa, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan penelitian yang dilakukan tim dari FKIP UHO tersebut. Menurutnya, penelitian ini memberikan manfaat bagi sekolah, khususnya dalam melihat sejauh mana pemanfaatan teknologi telah diterapkan guru dalam proses pembelajaran.
“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik penelitian yang dilakukan oleh tim FKIP UHO di SDN 12 Kendari. Bagi kami, penelitian ini menjadi bahan evaluasi sekaligus masukan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam pemanfaatan teknologi,” ujar Sariwa.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi menuntut guru untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran. Karena itu, sekolah akan terus mendorong para guru untuk meningkatkan kompetensi, mengikuti pelatihan, serta memanfaatkan berbagai media pembelajaran yang dapat membuat proses belajar lebih menarik dan interaktif bagi siswa.
“Kami berharap hasil penelitian ini tidak berhenti sebagai sebuah laporan, tetapi dapat menjadi bahan tindak lanjut bagi sekolah dan guru. Dengan penguatan kompetensi guru, kami berharap pembelajaran di SDN 12 Kendari semakin inovatif, interaktif, dan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi peserta didik,” pungkasnya.
Senada, Guru Kelas SDN 12 Kendari, Abdul Rachmat Harmaijin, S.Pd menyambut positif pelaksanaan penelitian tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan wawasan dan masukan bagi guru untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.
“Penelitian ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai guru. Kami bisa mengetahui sejauh mana pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan apa saja yang masih perlu ditingkatkan agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif bagi siswa,” ujarnya. (Red)
Tidak ada komentar