UHO Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda ke-98, Patriotisme dan Persatuan Jadi Pesan Utama bagi Generasi Muda

waktu baca 4 menit
Rabu, 28 Okt 2026 21:15 17 Tim Redaksi

BritaTOP.Com,  KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) menjadikan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 sebagai momentum untuk memperkuat semangat persatuan, menanamkan nilai patriotisme, serta mendorong generasi muda agar berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Semangat tersebut tercermin dalam Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang digelar di Lapangan Upacara UHO, Rabu (28/10/2026), dengan melibatkan civitas akademika Kampus Hijau.

Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam sikap, pemikiran, dan tindakan generasi penerus bangsa.

Upacara dipimpin Wakil Rektor (WR) I UHO, Prof. Santiaji Bande, yang mewakili Rektor UHO. Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang menekankan pentingnya membangun generasi muda dengan karakter kuat, semangat perjuangan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam amanatnya, Menpora mengingatkan kembali peristiwa bersejarah 98 tahun silam ketika para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

Ikrar tersebut menjadi tonggak penting perjalanan bangsa karena menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu dalam mewujudkan cita-cita bersama.

Semangat itulah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda saat ini, termasuk mahasiswa sebagai bagian penting dari masa depan Indonesia.

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni

Makna Sumpah Pemuda tidak hanya terletak pada peringatan tahunan atau pengucapan ikrar bersejarah. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda mengandung pesan tentang pentingnya menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Di lingkungan perguruan tinggi, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, pengembangan ilmu pengetahuan, prestasi, inovasi, serta keterlibatan mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Kampus juga menjadi ruang penting untuk membangun generasi yang mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan bekerja sama demi mencapai tujuan bersama.

Pesan tersebut sejalan dengan amanat Menpora yang menegaskan bahwa kemajuan Indonesia tidak cukup hanya ditandai dengan pembangunan fisik, perkembangan teknologi, atau peningkatan kesejahteraan material. Kemajuan sejati harus dimulai dari kualitas manusia, karakter, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kita ingin membangun Indonesia yang maju. Tetapi kemajuan bukan hanya tentang gedung yang menjulang tinggi, teknologi yang semakin canggih, atau kekayaan yang berlimpah,” demikian pesan Menpora yang dibacakan Prof. Santiaji Bande.

Pesan ini menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian penting dari cita-cita Indonesia maju. Generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga harus memiliki integritas, semangat kebangsaan, serta tanggung jawab sosial.

Patriotik, Gigih, dan Berempati

Tema Hari Sumpah Pemuda ke-98 juga menegaskan tiga karakter penting yang perlu dimiliki generasi muda Indonesia.

Patriotik berarti mencintai tanah air melalui pengabdian dan tindakan nyata. Bagi mahasiswa, semangat ini dapat diwujudkan dengan menuntut ilmu secara sungguh-sungguh, menghasilkan karya yang bermanfaat, serta menggunakan pengetahuan untuk mendukung kemajuan masyarakat.

Gigih berarti tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Perjuangan para pemuda terdahulu menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kesediaan untuk terus berusaha meskipun menghadapi berbagai kesulitan.

Sementara itu, berempati berarti memiliki kepekaan terhadap kondisi orang lain. Keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kemampuan memberikan manfaat dan membantu sesama.

Menpora mengingatkan bahwa patriotisme harus berjalan bersama kepedulian, kegigihan harus disertai nurani, dan kemajuan harus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Sebab patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” demikian pesan dalam amanat tersebut.

UHO dan Tanggung Jawab Membangun Generasi Bangsa

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di UHO menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan dan kepedulian sosial.

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda diharapkan mampu meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui jalur pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, semangat Sumpah Pemuda juga relevan untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman serta mendorong generasi muda agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan.

Bagi civitas akademika UHO, momentum ini menjadi ajakan untuk terus menumbuhkan semangat kebersamaan dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana membangun masa depan bangsa.

Menpora dalam amanatnya turut berpesan agar generasi muda berani bermimpi setinggi mungkin, bekerja keras, dan menjadi pribadi yang kuat tanpa kehilangan kelembutan hati. Pemuda juga diharapkan berani mengambil peran kepemimpinan sekaligus bersedia melayani masyarakat.

“Jadikanlah setiap ilmu, setiap karya, dan setiap pengorbanan sebagai bukti cinta kita kepada Indonesia,” pesan Menpora.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di UHO pun menegaskan kembali bahwa semangat persatuan yang lahir pada 1928 tetap relevan bagi generasi masa kini. Tantangan zaman boleh berubah, tetapi komitmen untuk menjaga persatuan, mengembangkan potensi diri, dan mengabdi bagi bangsa harus terus dipelihara.

Sebab, masa depan Indonesia bukan sekadar sesuatu yang akan ditemui oleh generasi muda, melainkan sesuatu yang sedang dibangun bersama melalui ilmu, karakter, persatuan, dan tindakan nyata. (red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA