Dari Konsolidasi Menuju Aksi: Bank Sultra Enam Bulan Pasca Bergabung Dalam KUB Bank Jatim, Kini Menuju Bank Daerah yang Tangguh dan Modern

waktu baca 2 menit
Senin, 26 Mei 2025 20:48 72 Tim Redaksi

Sudah enam bulan berlalu sejak Bank Sultra resmi bergabung dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) bersama Bank Jatim. Keputusan ini sempat menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat—mengapa bank daerah harus “berinduk” ke bank lain?

Namun waktu membuktikan, langkah ini bukan bentuk ketergantungan, melainkan lompatan strategis untuk bertahan, berkembang, dan bersaing lebih kuat di tengah tuntutan zaman.

Bergabungnya Bank Sultra dalam KUB tak lepas dari regulasi OJK (sesuai dengan POJK No. 12/POJK.03/2020 sebagai langkah awal konsolidasi modal dan sinergi operasional yang mewajibkan seluruh bank umum memiliki modal inti minimal Rp 3 triliun).

Dari pada menunggu risiko sanksi atau penurunan status menjadi BPR, Bank Sultra memilih jalan kolaborasi. Dengan dukungan modal dari Bank Jatim, posisi keuangan menjadi lebih sehat dan memungkinkan ekspansi usaha dilakukan lebih percaya diri.

Keputusan ini juga mencerminkan keberanian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) dan beberapa bank daerah lain seperti BANK NTT, BANK NTB, dan BANK LAMPUNG dalam memprioritaskan kepentingan jangka panjang. Dari pada mengejar gengsi, mereka memilih kolaborasi. Dari pada berdiri sendiri dan tersendat, mereka memilih sinergi untuk melangkah lebih jauh.

Dampak positif kini mulai terasa. Modernisasi sistem teknologi dan layanan mulai diterapkan, termasuk integrasi produk digital, penguatan tata kelola, serta peningkatan kapasitas SDM. Ini bukan hanya soal angka dalam neraca keuangan, tetapi juga soal perubahan pola pikir dan budaya kerja yang lebih profesional.

KUB juga membuka jalan sinergi antar-BPD. Bank Sultra tidak lagi berjalan sendiri, tapi menjadi bagian dari ekosistem perbankan daerah yang saling menguatkan. Dari sini, lahir peluang berbagi infrastruktur, inovasi produk bersama, hingga kolaborasi dalam pembiayaan proyek strategis daerah.

Apakah semua ini sudah sempurna? Tentu belum. Tapi dalam enam bulan, arah pergerakan Bank Sultra sudah jelas: menuju bank daerah yang lebih kuat, modern, dan berdampak. Bank Sultra telah membuka jalan. Kini tinggal bagaimana konsistensi dan komitmen dijaga agar kepercayaan masyarakat tetap tumbuh, dan manfaat sinergi KUB benar-benar dirasakan hingga ke pelosok daerah.

Karena pada akhirnya, bank daerah bukan hanya soal angka, tapi tentang hadirnya lembaga keuangan yang mampu memperkuat ekonomi lokal— dan untuk itu, dibutuhkan keberanian untuk berubah. Ke depannya, dengan komitmen bersama dan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah (Pemda) serta pemangku kepentingan, Semoga Bank Sultra bisa menjadi contoh sukses transformasi BPD di Indonesia Timur. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA