Hebat! Dosen UMW Kendari Kembangkan Termometer Bersuara Tiga Bahasa, Siswa SMKN 6 Antusias Mencoba

waktu baca 7 menit
Senin, 26 Okt 2026 19:45 7 Tim Redaksi

BritaTOP.Com, KENDARI – Inovasi teknologi kesehatan terus berkembang untuk menghadirkan layanan yang lebih mudah, praktis, dan inklusif bagi masyarakat. Salah satunya melalui termometer nonkontak yang mampu menyampaikan hasil pengukuran suhu tubuh dalam bentuk suara menggunakan tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Tolaki, dan Bahasa Inggris.

Inovasi hasil penelitian dosen dan mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Elektromedis Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari ini diperkenalkan kepada siswa SMKN 6 Kendari melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat perkembangan teknologi peralatan kesehatan, sekaligus memahami bagaimana ilmu elektronika dan pemrograman dapat dimanfaatkan untuk menciptakan perangkat medis yang berguna bagi masyarakat.

Ketua Tim PKM UMW, Aryani Adami, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai teknologi kesehatan, tetapi juga mendorong mereka agar memiliki semangat berkreasi dan berinovasi dalam pengembangan teknologi.

Menurutnya, SMKN 6 Kendari merupakan sekolah kejuruan di Kota Kendari yang memiliki jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperkenalkan berbagai penerapan teknologi, termasuk pengembangan peralatan medis yang menggabungkan sistem elektronika dan pemrograman.

“Kegiatan PKM ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi kesehatan kepada siswa SMKN 6 Kendari dan juga memberikan motivasi berkesinambungan agar terus berkreasi dan berinovasi dalam rekayasa teknologi, terutama peralatan teknologi medis yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Termometer Nonkontak dengan Fitur Suara Tiga Bahasa

Dalam kegiatan tersebut, tim PKM UMW memperkenalkan termometer nonkontak yang memiliki kemampuan mengukur suhu tubuh tanpa harus bersentuhan langsung dengan tubuh pengguna.

Berbeda dari termometer digital yang umumnya mengandalkan tampilan angka pada layar, perangkat ini dilengkapi fitur keluaran suara sehingga hasil pengukuran dapat didengar langsung oleh pengguna.

Dukungan tiga bahasa menjadi salah satu keunggulan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, alat ini juga menggunakan Bahasa Tolaki, yang merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tenggara.

Fitur tersebut dikembangkan untuk memberikan alternatif penyampaian informasi yang lebih mudah dipahami oleh pengguna dengan latar belakang bahasa berbeda.

Selama ini, pembacaan hasil pengukuran suhu tubuh umumnya mengharuskan pengguna melihat angka pada layar dan memahami informasi yang ditampilkan. Bagi anak-anak yang belum terbiasa membaca angka suhu tubuh maupun individu dengan keterbatasan penglihatan, penyampaian hasil melalui suara dapat menjadi fitur yang membantu.

Melalui inovasi ini, pengguna tidak hanya bergantung pada tampilan visual untuk mengetahui hasil pengukuran. Informasi suhu tubuh dapat disampaikan secara lisan sehingga penggunaan perangkat menjadi lebih praktis dan mudah diakses.

Pengukuran tanpa kontak fisik juga memberikan kenyamanan, terutama ketika alat digunakan secara bergantian oleh banyak orang, seperti dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan di lingkungan sekolah.

Meski demikian, hasil pengukuran suhu tubuh tetap perlu dipahami sesuai petunjuk penggunaan alat dan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis penyakit.

Bagi para siswa, pengenalan perangkat ini memberikan gambaran bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus berupa aplikasi atau perangkat lunak komputer. Teknologi juga dapat dikembangkan menjadi peralatan medis yang membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Siswa Belajar Cara Kerja Teknologi Medis

Tidak hanya memperkenalkan fungsi alat, tim dosen UMW juga menjelaskan prinsip kerja termometer nonkontak kepada siswa dan guru SMKN 6 Kendari.

Para peserta diberikan pemahaman mengenai proses pengukuran suhu tubuh menggunakan sensor inframerah yang mendeteksi radiasi panas dari objek tanpa memerlukan kontak fisik secara langsung. Radiasi inframerah yang diterima sensor kemudian diubah menjadi sinyal listrik untuk diproses lebih lanjut menjadi data suhu.

Pada perangkat yang diperkenalkan, data tersebut diproses menggunakan mikrokontroler ATmega328. Hasil pengukuran kemudian ditampilkan pada layar LCD dan disampaikan melalui suara menggunakan modul DFPlayer Mini sesuai bahasa yang dipilih.

Penjelasan ini memperlihatkan bagaimana berbagai komponen teknologi bekerja secara terpadu, mulai dari sensor, rangkaian elektronika, mikrokontroler, hingga perangkat keluaran suara.

Bagi siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, materi tersebut menjadi gambaran nyata tentang penerapan pemrograman dan sistem kendali dalam pengembangan teknologi kesehatan.

Pengetahuan ini diharapkan dapat memperluas wawasan siswa bahwa kemampuan di bidang teknologi informasi dan elektronika memiliki peluang penerapan yang luas, termasuk dalam menciptakan peralatan yang mendukung pelayanan kesehatan.

Melalui pengenalan tersebut, siswa juga didorong untuk melihat berbagai persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menghasilkan inovasi.

Peralatan sederhana yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna, misalnya, dapat memberikan manfaat nyata apabila dirancang dengan memperhatikan fungsi, kemudahan penggunaan, dan aksesibilitas.

Antusiasme Siswa Saat Mencoba Langsung

Setelah mendapatkan penjelasan mengenai manfaat dan prinsip kerja termometer nonkontak, para siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung penggunaan alat tersebut.

Praktik ini menjadi salah satu bagian menarik dalam kegiatan PKM karena siswa dapat menyaksikan secara langsung proses pengukuran suhu tubuh, melihat hasilnya pada layar, serta mendengarkan keluaran suara dalam bahasa yang tersedia.

Antusiasme peserta terlihat dari keinginan mereka untuk mencoba perangkat yang diperkenalkan oleh tim dosen UMW. Aryani Adami mengungkapkan, rasa ingin tahu para siswa menjadi salah satu hal positif yang muncul selama kegiatan berlangsung.

“Rasa ingin tahu dan antusias para siswa membuat mereka berlomba-lomba ingin mencoba langsung menggunakan termometer nonkontak ini,” tuturnya.

Melalui metode penjelasan dan praktik langsung, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menggunakan teknologi kesehatan. Pendekatan ini diharapkan membantu siswa memahami materi secara lebih mudah sekaligus meningkatkan ketertarikan mereka terhadap perkembangan teknologi medis.

Selain itu, keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut menjadi peluang untuk memperluas pengenalan teknologi kesehatan di lingkungan sekolah melalui kegiatan pembelajaran maupun program edukasi berikutnya.

Pemahaman Siswa Dievaluasi melalui Pretest dan Post-test

Untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan, tim PKM UMW melaksanakan pretest sebelum sosialisasi dan post-test setelah kegiatan selesai.

Evaluasi tersebut digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai fungsi termometer, pentingnya pengukuran suhu tubuh, serta cara menggunakan termometer nonkontak dengan keluaran suara tiga bahasa.

Berdasarkan hasil post-test yang disampaikan tim, para siswa telah mengetahui fungsi termometer dan cara menggunakan perangkat yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.

Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal teknologi kesehatan sekaligus memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, untuk mengetahui besarnya peningkatan pemahaman secara terukur, diperlukan perbandingan nilai pretest dan post-test.

Tim PKM berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada pengenalan perangkat, tetapi juga dapat menumbuhkan minat siswa untuk mempelajari teknologi secara lebih mendalam.

Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengembangkan gagasan dan menciptakan inovasi sesuai bidang keahlian masing-masing.

UMW dan SMKN 6 Kendari Buka Peluang Kerja Sama

Kegiatan PKM tersebut mendapat respons positif dari para siswa dan guru SMKN 6 Kendari. Pihak sekolah juga berharap pengenalan teknologi terbaru di bidang kesehatan yang dilakukan Program Studi D3 Teknologi Elektromedis UMW dapat terus berlanjut pada masa mendatang.

Kerja sama antara perguruan tinggi dan sekolah kejuruan dinilai penting untuk memperluas wawasan peserta didik mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan tinggi memiliki peran dalam menghasilkan penelitian dan inovasi, sedangkan sekolah dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil pengembangan tersebut kepada generasi muda.

Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi pelaksanaan kegiatan lanjutan, seperti pengenalan instrumentasi elektronika, sistem mikrokontroler, pengembangan perangkat berbasis sensor, hingga penerapan teknologi untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Bagi SMKN 6 Kendari, kegiatan tersebut menjadi tambahan pengalaman pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan di lingkungan sekolah dengan hasil penelitian dari perguruan tinggi.

Sementara bagi UMW, kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

Melalui kegiatan ini, tim PKM berharap semakin banyak siswa yang tertarik mempelajari teknologi kesehatan dan terdorong mengembangkan kreativitas dalam menciptakan perangkat yang bermanfaat.

Pengenalan teknologi sejak dini juga diharapkan mampu membangun pola pikir inovatif di kalangan generasi muda, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Diketahui, tim PKM Program Studi D3 Teknologi Elektromedis Universitas Mandala Waluya terdiri atas tiga dosen, yakni Aryani Adami sebagai ketua tim, serta La Ode Hamrin dan Waode Erimelga Nurfitri sebagai anggota.

Kegiatan ini turut melibatkan dua mahasiswa, yaitu Yusnawati Ino dan Muh. Faisa.

Melalui program tersebut, UMW berupaya memperkenalkan hasil penelitian sekaligus mendorong siswa SMKN 6 Kendari untuk terus belajar, berkreasi, dan berinovasi dalam pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA