Lahan Terbatas Bukan Hambatan, KKN- Tematik UHO Dorong Ibu Rumah Tangga Kambu Kembangkan Hidroponik

waktu baca 4 menit
Senin, 10 Agu 2026 18:57 17 Tim Redaksi

BritaTOP.Com, KENDARI — Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tak menyurutkan upaya masyarakat untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) terintegrasi KKN Tematik Tahun 2026, Universitas Halu Oleo (UHO) mendorong kelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Kambu, Kota Kendari, memanfaatkan teknologi hidroponik untuk membudidayakan sayuran di lahan terbatas.

Program bertajuk “Bimbingan Teknis Budidaya Sayuran Hidroponik untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga” tersebut dilaksanakan pada 18 Juli 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat agar mampu memproduksi sayuran secara mandiri dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah.

Kegiatan dipimpin oleh Dr. Rosmawaty, S.P., M.Si. selaku ketua tim pelaksana. Sementara materi teknis budidaya disampaikan oleh Prof. Ir. Teguh Wijayanto, M.Sc., Ph.D.

Dorong Ketahanan Pangan dari Lingkungan Keluarga

Dr. Rosmawaty menjelaskan, hidroponik dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi masyarakat perkotaan yang menghadapi keterbatasan lahan untuk kegiatan pertanian.

Menurutnya, teknologi hidroponik dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk memanfaatkan ruang sempit secara produktif sekaligus memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.

“Budidaya hidroponik menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Melalui kegiatan ini, kami berharap ibu-ibu rumah tangga dapat memiliki keterampilan untuk menghasilkan sayuran secara mandiri sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi perlu dibangun mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Pemanfaatan pekarangan maupun ruang kosong di sekitar rumah untuk menghasilkan bahan pangan, kata dia, merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.

“Ketika keluarga mampu memproduksi sebagian kebutuhan sayurannya sendiri, maka ada nilai kemandirian yang terbentuk. Inilah yang ingin kami dorong melalui kegiatan PKM terintegrasi KKN Tematik ini,” lanjutnya.

Peserta Dibekali Teori hingga Praktik

Dalam bimbingan teknis tersebut, peserta mendapatkan materi mulai dari prinsip dasar hidroponik, pemilihan komoditas sayuran, penyemaian benih, persiapan media tanam, pemindahan tanaman, pengelolaan nutrisi, pemeliharaan hingga proses pemanenan.

Prof. Ir. Teguh Wijayanto menekankan bahwa keberhasilan budidaya hidroponik sangat ditentukan oleh pemahaman teknis dan kemampuan dalam mengelola tanaman sesuai kondisi lingkungan.

Peserta tidak hanya diperkenalkan dengan konsep hidroponik, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai pengelolaan air, nutrisi dan pemeliharaan tanaman secara tepat.

“Teknologi hidroponik dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin membudidayakan sayuran tetapi memiliki keterbatasan lahan. Yang terpenting adalah memahami prinsip budidayanya, pengelolaan air dan nutrisi, serta pemeliharaan tanaman secara tepat,” demikian draft pernyataan Prof. Teguh.

Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Peserta diarahkan untuk mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri setelah kegiatan berakhir.

Dengan demikian, bimbingan teknis tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan menjadi keterampilan yang dapat terus dikembangkan di lingkungan rumah tangga.

Hidroponik Buka Peluang Ekonomi

Pengembangan hidroponik di tingkat rumah tangga tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan sayuran keluarga. Jika dikelola secara berkelompok dan berkelanjutan, kegiatan tersebut juga dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif.

Hasil panen yang melebihi kebutuhan keluarga dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar. Kondisi ini membuka peluang bagi kelompok ibu rumah tangga untuk mengembangkan usaha berbasis pangan sekaligus memperoleh tambahan pendapatan.

Karena itu, program PKM UHO tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan teknologi budidaya, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat bahwa rumah tangga dapat menjadi bagian dari solusi dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi.

KKN Tematik Perkuat Pendampingan

Integrasi PKM dengan KKN Tematik menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program tersebut. Mahasiswa turut terlibat dalam proses pendampingan masyarakat sehingga pengetahuan yang diberikan tim pelaksana dapat terus diterapkan di lapangan.

Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan dapat memperkuat proses transfer teknologi serta membantu kelompok sasaran menghadapi berbagai kendala selama penerapan budidaya hidroponik.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa dan masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi pertanian yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Dari Kambu untuk Ketahanan Pangan Keluarga

Program PKM terintegrasi KKN Tematik UHO di Kelurahan Kambu menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi teknologi pertanian.

Melalui keterampilan budidaya hidroponik, kelompok ibu rumah tangga diharapkan mampu mengoptimalkan ruang yang tersedia untuk menghasilkan pangan secara mandiri.

Dalam jangka panjang, kegiatan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan ekonomi rumah tangga.

Bagi UHO, kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan solusi berbasis pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dari Kelurahan Kambu, gerakan sederhana menanam sayuran di ruang terbatas diharapkan menjadi langkah awal menuju keluarga yang lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus membangun masyarakat perkotaan yang lebih produktif dan adaptif menghadapi tantangan ketahanan pangan. (red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA