HUT ke-81 TNI AL Jadi Momentum Refleksi, Danlanal Kendari Bicara Tantangan Pertahanan Masa Depan

waktu baca 5 menit
Kamis, 10 Sep 2026 12:42 15 Tim Redaksi

BritaTOP.Com, KENDARI – Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Kendari menggelar Apel Siaga dan Tasyakuran dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 TNI Angkatan Laut (TNI AL) Tahun 2026, Kamis (10/9/2026).

Peringatan tahun ini mengangkat tema “Dengan Semangat Jalesveva Jayamahe, TNI Angkatan Laut Siap Mewujudkan Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Komandan Lanal (Danlanal) Kendari, Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis, S.T., M.Sc., CHRMP, mengatakan tema tersebut bukan sekadar pernyataan seremonial, tetapi mengandung cita-cita jangka panjang yang selaras dengan tujuan nasional bangsa Indonesia.

Menurutnya, perjalanan 81 tahun TNI AL merupakan sejarah panjang yang sarat dengan perjuangan, pengabdian dan pengorbanan. Karena itu, momentum Hari Jadi ke-81 TNI AL tidak cukup hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenang perjalanan masa lalu.

“Namun harus dimaknai sebagai momentum refleksi untuk melihat dengan jernih di mana posisi TNI Angkatan Laut saat ini, apa yang telah dibangun, apa yang masih harus diperkuat, dan kemampuan seperti apa yang harus disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujar M. Sati Lubis dalam amanatnya.

Ia menegaskan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki ruang maritim yang sangat strategis. Laut tidak hanya menjadi ruang kedaulatan, tetapi juga menjadi penghubung antarwilayah, jalur perdagangan dan komunikasi, sumber daya serta energi, sekaligus ruang strategis bagi Indonesia dalam membangun konektivitas dan pengaruh di tingkat global.

Karena itu, TNI AL memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan ruang maritim Indonesia tetap aman dan terlindungi.

“Inilah jati diri dan tugas kita, TNI Angkatan Laut yang harus selalu siap siaga untuk hadir dan menjaga seluruh ruang maritim yang menjadi tanggung jawab sesuai amanat undang-undang,” tegasnya.

M. Sati Lubis juga mengingatkan bahwa tantangan pertahanan dan keamanan ke depan semakin kompleks. Kompetisi global semakin tajam, sementara dinamika geopolitik di berbagai kawasan terus berkembang.

Kepentingan berbagai negara yang semakin banyak beririsan di laut menjadikan ruang maritim sebagai arena interaksi strategis yang dinamis.

Di sisi lain, batas antara kondisi damai, krisis dan konflik semakin sulit dibedakan. Ancaman terhadap suatu negara dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perang informasi, serangan siber, tekanan ekonomi, gangguan infrastruktur, aktivitas grey zone, hingga penggunaan kekuatan militer secara terbuka.

Perkembangan teknologi juga telah mengubah karakter peperangan dan operasi militer. Kehadiran kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, sensor, persenjataan jarak jauh, pengolahan data dan sistem informasi membuat kemampuan suatu negara dalam mengamati, memahami, mengambil keputusan dan bertindak menjadi semakin menentukan.

“Kondisi ini memberikan pesan yang jelas pada kita semua, bahwa TNI Angkatan Laut harus terus bertransformasi dan berinovasi tanpa henti. Kita tidak boleh menghadapi tantangan masa depan dengan cara berpikir masa lalu,” katanya.

Menurutnya, transformasi melalui modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan kekuatan pertahanan negara.

Untuk itu, TNI AL menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Republik Indonesia atas dukungan dan komitmennya dalam memperkuat kemampuan pertahanan nasional melalui penambahan berbagai alutsista baru.

Kehadiran berbagai alutsista tersebut, termasuk kapal induk yang disebut dalam waktu dekat akan tiba di Tanah Air, diharapkan dapat membuka ruang bagi peningkatan daya tangkal, kemampuan operasi, profesionalisme prajurit serta integrasi antarmatra TNI.

Namun demikian, M. Sati Lubis menekankan bahwa alutsista bukan satu-satunya faktor dalam membangun kapabilitas pertahanan.

Kekuatan tersebut harus didukung prajurit yang kompeten, doktrin dan organisasi yang relevan, sistem komando dan kendali yang efektif, infrastruktur serta jejaring informasi yang terintegrasi, hingga dukungan logistik yang mampu menjamin keberlanjutan operasi.

“Inilah hakikat dari kesiapsiagaan yang harus kita bangun. Kesiapsiagaan seluruh komponen SSAT beserta prajurit yang siap bertugas sesuai fungsi di seluruh spektrum operasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kesiapsiagaan TNI AL tidak hanya ditujukan untuk menghadapi ancaman militer. Perubahan iklim, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, erupsi gunung berapi maupun berbagai bencana alam lainnya juga menjadi tantangan yang membutuhkan kehadiran negara secara cepat.

Bencana dapat mengganggu rantai pasok dan logistik serta berpotensi menimbulkan krisis sosial apabila tidak ditangani dengan cepat dan terkoordinasi.

“Oleh karena itu, saya perintahkan seluruh prajurit dan alutsista TNI Angkatan Laut harus selalu siap dikerahkan untuk membantu negara dan masyarakat setiap saat,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan harus dibangun untuk menghadapi spektrum tugas yang semakin luas dan beragam. TNI AL dituntut tidak hanya kuat dalam menjaga kedaulatan dan keamanan laut, tetapi juga mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, TNI AL terus memperkuat kehadirannya melalui program unggulan “Aku Cinta Laut”.

Program tersebut menjadi salah satu wujud kepedulian TNI AL terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir. Melalui kegiatan bersih-bersih pantai, sungai dan laut, TNI AL mendorong tumbuhnya kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan maritim.

Di bidang sosial, TNI AL juga hadir melalui kegiatan makan bergizi gratis, bakti sosial serta penyaluran sembilan bahan pokok bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara di bidang kesehatan, personel TNI AL memberikan pelayanan pengobatan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Tidak hanya itu, di bidang ekonomi, TNI AL turut mendorong kemandirian masyarakat melalui edukasi budidaya ikan serta penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Menurut M. Sati Lubis, berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan TNI AL tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat dan menjaga keberlanjutan kehidupan di wilayah pesisir.

Peringatan Hari Jadi ke-81 TNI AL di Lanal Kendari pun menjadi momentum untuk memperkuat tekad seluruh prajurit agar terus meningkatkan profesionalisme, kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan.

Dengan semangat Jalesveva Jayamahe, TNI AL diharapkan semakin mampu menjalankan tugas menjaga kedaulatan wilayah laut Indonesia sekaligus memperkuat kehadirannya di tengah masyarakat.

Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan TNI AL yang semakin modern, profesional dan responsif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA