Hari Pangan Sedunia 2026, Yayasan INSANI Suarakan Kedaulatan Pangan: Petani Kecil Harus Dilindungi, Pertanian Organik Diperkuat

waktu baca 7 menit
Jumat, 16 Okt 2026 22:57 8 Tim Redaksi

BritaTOP.Com,,KENDARI – Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2026, Yayasan Bina Insani Indonesia Kendari (INSANI) menyerukan penguatan kedaulatan pangan nasional melalui pengembangan pertanian organik, perlindungan petani kecil, serta kebijakan pertanian yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan pangan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi. Lebih dari itu, pembangunan sistem pangan harus menjamin kesejahteraan petani, menjaga kelestarian lingkungan, serta memastikan masyarakat memperoleh pangan yang sehat dan bergizi.

Yayasan INSANI menyampaikan pernyataan tersebut di tengah partisipasinya dalam Konferensi Organik Indonesia 2026 yang berlangsung di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 13 Oktober 2026 lalu, serta Rapat Umum Anggota (RUA) IX Aliansi Organis Indonesia (AOI) yang digelar pada 14–16 Oktober 2026 di Pangandaran.

Sebagai organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam AOI, Yayasan INSANI menilai momentum Hari Pangan Sedunia menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi berbagai tantangan sistem pangan Indonesia, mulai dari perubahan iklim, penurunan kesehatan tanah, ketergantungan terhadap input pertanian eksternal, ketidakstabilan harga hasil pertanian, hingga terbatasnya akses pasar dan lemahnya posisi tawar petani kecil.

Manajer Program Yayasan Bina Insani Indonesia, La Ode Susvito, S.Pd., mengatakan, petani kecil harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam menentukan arah pembangunan sistem pangan nasional.

Menurutnya, keberhasilan ketahanan pangan tidak semata-mata diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari proses produksi, keberlanjutan lingkungan, serta kemampuan petani memperoleh penghidupan yang layak.

“Hari Pangan Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya diukur dari seberapa banyak pangan yang diproduksi, tetapi juga dari siapa yang memproduksinya, bagaimana pangan dihasilkan, dan apakah petani memperoleh kehidupan yang layak,” ujar Susvito.

Ia menegaskan, petani kecil tidak boleh hanya menjadi pelaksana kebijakan pangan, melainkan harus mendapatkan ruang untuk terlibat dalam menentukan masa depan sistem pangan Indonesia.

Pertanian Organik Jadi Solusi Hadapi Krisis Iklim

Yayasan INSANI memandang pertanian organik sebagai salah satu pendekatan penting dalam membangun sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu memperbaiki kesehatan tanah, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi ketergantungan terhadap input sintetis, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal.

Di tengah perubahan iklim yang semakin memengaruhi sektor pertanian, petani kecil menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi perubahan pola musim, curah hujan ekstrem, kekeringan, serta meningkatnya gangguan hama dan penyakit tanaman.

Namun, pengembangan pertanian organik tidak cukup hanya dengan mengubah teknik budidaya. Perubahan tersebut perlu dibarengi penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas produksi, perluasan akses pasar, serta dukungan pembiayaan dan kebijakan yang memadai.

Tanpa dukungan ekosistem yang kuat, pertanian organik berisiko sulit berkembang menjadi sistem usaha tani yang mampu memberikan manfaat ekonomi secara konsisten bagi petani.

Dampingi Petani Sayur Organik di Konawe Kepulauan

Komitmen Yayasan INSANI dalam mendorong pertanian berkelanjutan diwujudkan melalui pendampingan kelompok tani hortikultura di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.

Program tersebut mencakup penguatan kapasitas petani melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tani Sayur Organik, perbaikan kesehatan tanah, pengolahan pupuk organik, penerapan praktik budidaya ramah lingkungan, serta penguatan kelembagaan kelompok tani dan pemasaran hasil pertanian.

Pengalaman pendampingan di tingkat masyarakat menunjukkan bahwa petani memiliki potensi dan kemauan untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih sehat. Meski demikian, mereka masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk dampak perubahan iklim, gangguan organisme pengganggu tanaman, keterbatasan akses pasar, keberlanjutan produksi, dan lemahnya pengorganisasian.

Karena itu, keberhasilan pertanian organik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, sektor usaha, konsumen, hingga media.

“Pengalaman kami mendampingi petani sayur organik di Konawe Kepulauan memperlihatkan bahwa petani memiliki potensi dan kemauan untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Namun, perubahan praktik budidaya harus berjalan bersamaan dengan penguatan kelembagaan, pendampingan berkelanjutan, dan kepastian akses pasar,” jelas Susvito.

Ia, yang juga merupakan anggota Indonesia Climate Change Alliance (ICCA), menilai dukungan berkelanjutan sangat diperlukan agar pertanian organik mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Konferensi Organik Indonesia dan RUA IX AOI Perkuat Kolaborasi

Partisipasi Yayasan INSANI dalam Konferensi Organik Indonesia 2026 dan RUA IX AOI menjadi bagian dari upaya memperluas pembelajaran, membangun jejaring kolaborasi, serta memperkuat peran organisasi masyarakat sipil dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.

Konferensi Organik Indonesia menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pihak untuk berbagi pengalaman mengenai praktik pertanian di tingkat petani, perkembangan pengetahuan dan inovasi, pengolahan produk, kewirausahaan, serta penguatan pasar produk organik.

Sementara itu, RUA IX AOI menjadi momentum strategis untuk memperkuat tata kelola organisasi, solidaritas gerakan, dan arah advokasi pengembangan pertanian organik nasional.

Bagi Yayasan INSANI, kedua agenda tersebut juga penting untuk memastikan gerakan pertanian organik nasional tetap terhubung dengan kebutuhan nyata petani di daerah, khususnya wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan geografis, keterbatasan akses pasar, dan kerentanan terhadap perubahan iklim.

Susvito turut menyampaikan apresiasi kepada Aliansi Organis Indonesia sebagai penyelenggara dan Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) sebagai tuan rumah kegiatan.

Ia juga mengucapkan selamat kepada lima anggota Dewan Pertimbangan Anggota (DPA) AOI periode 2026–2029 yang terpilih dalam RUA IX AOI 2026.

Lima Seruan INSANI untuk Kedaulatan Pangan

Dalam momentum Hari Pangan Sedunia 2026, Yayasan INSANI menyampaikan lima seruan kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem pangan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Pertama, menempatkan petani kecil sebagai aktor utama pembangunan sistem pangan. Pemerintah didorong memperkuat perlindungan dan pemberdayaan petani melalui akses terhadap sumber daya produktif, pendampingan, pembiayaan, informasi iklim, serta pasar yang memberikan nilai ekonomi secara adil.

Kedua, memperkuat kebijakan dan anggaran pertanian organik. Pengembangan pertanian organik perlu diintegrasikan dalam kebijakan pembangunan pertanian di tingkat nasional maupun daerah, termasuk melalui dukungan pengelolaan kesehatan tanah, produksi input organik lokal, pengembangan benih, riset, dan peningkatan kapasitas petani.

Ketiga, memperkuat kelembagaan dan regenerasi petani. Kelompok tani, kelompok wanita tani, koperasi, dan organisasi ekonomi petani perlu didorong menjadi kelembagaan yang mandiri, demokratis, inklusif, serta mampu mengelola produksi dan pemasaran secara kolektif. Keterlibatan perempuan dan generasi muda juga harus diperkuat.

Keempat, membangun pasar pangan organik yang inklusif dan berkeadilan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memperluas akses pasar produk organik lokal, memperkuat rantai pasok pendek, serta mendukung sistem penjaminan mutu yang kredibel dan terjangkau bagi petani kecil, termasuk melalui Sistem Penjaminan Partisipatif atau Participatory Guarantee System (PGS) sesuai ketentuan yang berlaku.

Kelima, mengintegrasikan pertanian organik dengan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pengelolaan kesehatan tanah, diversifikasi tanaman, pemanfaatan bahan organik lokal, konservasi air, dan penguatan agroekosistem perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Yayasan INSANI menilai kelima langkah tersebut penting untuk membangun sistem pangan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menjaga sumber daya alam, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat kemandirian masyarakat.

Dorong Sistem Pangan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan

Yayasan INSANI menegaskan, masa depan pangan Indonesia tidak cukup ditentukan oleh peningkatan produksi semata. Keberhasilan pembangunan pangan juga harus tercermin dari terjaganya kesuburan tanah, meningkatnya kesejahteraan petani, kuatnya kemandirian masyarakat, serta terbukanya akses terhadap pangan sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Momentum Hari Pangan Sedunia, Konferensi Organik Indonesia 2026, dan RUA IX AOI diharapkan menjadi penggerak komitmen bersama agar pertanian organik tidak hanya berkembang sebagai pasar khusus, tetapi menjadi bagian penting dari transformasi sistem pangan nasional.

“Kita membutuhkan sistem pangan yang tidak hanya mampu memberi makan masyarakat hari ini, tetapi juga menjaga kesuburan tanah, melindungi lingkungan, dan menjamin keberlanjutan kehidupan petani bagi generasi mendatang. Pertanian organik harus menjadi gerakan bersama yang mempertemukan kepentingan petani, konsumen, dan kelestarian alam,” tutup Susvito.

Melalui peringatan Hari Pangan Sedunia 2026, Yayasan INSANI mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pangan sehat, petani berdaulat, dan lingkungan lestari.

Diketahui, Yayasan Bina Insani Indonesia Kendari (INSANI) merupakan organisasi masyarakat sipil yang berbasis di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan bergerak dalam pemberdayaan masyarakat, pertanian organik dan berkelanjutan, ketahanan pangan, konservasi lingkungan, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sebagai anggota Aliansi Organis Indonesia (AOI), Yayasan INSANI berkomitmen memperkuat kapasitas masyarakat, kelembagaan petani, dan pengembangan sistem pangan yang berkeadilan serta berkelanjutan.  (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA