BritaTop.Com, KENDARI- Tumpukan rumput laut jenis Sargassum yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah pengotor pantai, kini disulap menjadi material konstruksi berkelanjutan. Tim Pengabdian Dosen Universitas Halu Oleo (UHO) yang terdiri dari Dr.Edward Ngii (ketua), Dr. Muh. Yamin, Prof., Dr. La Ode M. Aslan, dan Dr. Muh. Yani Balaka, meluncurkan inovasi“Sargablock“, sebuah batako ramah lingkungan yang memanfaatkan biomassa laut sebagai pengganti parsial pasir. Produk inovasi ini dinamakan “Sargablock“.
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di DesaPuasana, Kecamatan Moramo Utara, dan melibatkan langsungpara pengrajin batako setempat. Kegiatan ini mendapatsambutan positif dari warga karena menghadirkan inovasibaru yang memanfaatkan limbah Sargassum, rumput laut cokelat yang kerap menumpuk di pesisir, sebagai bahan dasar pembuatan batako ramah lingkungan.
“Selama ini Sargassum yang menumpuk di pesisir hanyamenjadi masalah. Melalui program ini, kami ingin mengubahmasalah menjadi peluang dengan menciptakan nilai tambah,” ujar Dr. Edward Ngii, ST., MT., ketua tim pelaksana.
Ia menegaskan bahwa inovasi Sargablock tidak hanya berfokuspada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang usahabaru yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Proses pembuatan Sargablock dimulai dengan mengumpulkanSargassum dari lokasi budidaya rumput laut di Desa BunginPermai, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan.
Setelah dikumpulkan, material tersebut dikeringkan dan melalui serangkaian proses pencampuran dengan komponenkonstruksi lain untuk menghasilkan batako yang kuat, ekonomis, dan layak digunakan sebagai bahan bangunanalternatif. Rumput laut tersebut kemudian dicuci untukmengurangi kadar garam, dikeringkan, dan dihaluskanmenjadi serbuk. Serbuk inilah yang kemudian dicampurkan kedalam adonan batako pengganti sebagian pasir.
Potensi pemanfaatan rumput laut sebagai bahan material berkelanjutan telah dibuktikan oleh sejumlah peneliti di Brasildan Cina. Sebagai negara maritim, Indonesia memilikipeluang besar untuk mengembangkan potensi ini, khususnyadi sektor material konstruksi.

Batako berbahan Sargassum menawarkan keunggulan sebagaimaterial bangunan yang lebih berkelanjutan, karena bahanbakunya dapat dibudidayakan secara masif dan mudahdiperbarui serta proses produksinya dinilai lebih ramahlingkungan dibandingkan material konvensional. Selain itu, batako ini memiliki kemampuan insulasi termal yang lebihbaik, sehingga meningkatkan efisiensi energi pada bangunan.
Pemanfaatan Sargassum juga berkontribusi mengurangilimbah biomassa yang menumpuk di wilayah pesisir yang selama ini menjadi masalah lingkungan bagi masyarakatpesisir. Secara keseluruhan, inovasi ini membuka peluangbaru dalam pemanfaatan sumber daya laut secara lebihoptimal.
Prof. Dr. Sc. Ir. La Ode M. Aslan, M.Sc., pakar rumput lauttim UHO, menekankan bahwa inovasi ini sekaligus menjadicontoh nyata penerapan ekonomi sirkular. “Kami tidak hanyamengambil, tetapi memberi solusi dengan memanfaatkansumber daya yang terabaikan,” jelasnya.
Dengan adanya Sargablock, diharapkan dapat membukawawasan baru bagi masyarakat pesisir dalam memanfaatkanpotensi lokal secara optimal, menciptakan produk konstruksiyang inovatif dan ramah lingkungan. Program ini diharapkanmampu menjadi model inovasi berkelanjutan yang dapatdireplikasi di desa-desa pesisir lainnya.
Selain mengurangi dampak penumpukan limbah laut, kehadiran Sargablock juga dinilai berpotensi menjadi produk unggulan daerah yang dapatmendukung pengembangan ekonomi hijau di wilayah pesisirKonawe Selatan. Jika program ini terus dikembangkan, masyarakat pesisir tidak hanya mendapatkan solusilingkungan, tetapi juga peluang kesejahteraan jangka panjang. (Red)
Tidak ada komentar