Lewat PBL, Mahasiswa FKM UHO Identifikasi Masalah Kesehatan di Konawe Utara

waktu baca 2 menit
Selasa, 27 Jan 2026 10:52 93 Tim Redaksi

BritaTOP.Com, KENDARI- Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo (FKM UHO) melaksanakan Program Praktek Belajar Lapangan (PBL) sebagai upaya memahami sekaligus menangani berbagai permasalahan kesehatan yang ada di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu kesehatan masyarakat di lapangan.

Kepala Laboratorium FKM UHO, Nurmaladewi, S.KM., M.P.H., mengatakan PBL merupakan mata kuliah inti pada Program Studi Kesehatan Masyarakat yang dirancang dalam bentuk kuliah lapangan. Program ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata dalam mengidentifikasi, menganalisis, serta merumuskan solusi terhadap persoalan kesehatan masyarakat.

“Secara konseptual, PBL dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu identifikasi masalah, penyusunan dan pelaksanaan program kerja, serta evaluasi. Dalam praktiknya, PBL terbagi menjadi dua kegiatan, yakni PBL I dan PBL II,” ujar Nurmaladewi, pada Senin (26/1).

Ia menjelaskan, PBL I dilaksanakan selama 14 hari dengan fokus pada pengambilan data lapangan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat. Setiap angkatan dibagi menjadi 20 kelompok mahasiswa yang ditempatkan di dua kecamatan dengan cakupan 10 desa. Saat ini, pelaksanaan PBL telah memasuki tahun kedua di Kabupaten Konawe Utara sebagai bagian dari program desa binaan yang dirancang berlangsung selama lima tahun berturut-turut.

“PBL I tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 29 Januari hingga 11 Februari. Mahasiswa melakukan survei cepat menggunakan kuesioner yang telah dibekali sebelumnya,” katanya.

Dari kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan, berkomunikasi dengan masyarakat, serta mengolah dan menganalisis data menggunakan aplikasi pengolahan data. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menentukan tiga hingga lima masalah prioritas yang akan menjadi dasar penyusunan program pada PBL II.

Nurmaladewi menambahkan, PBL II biasanya dilaksanakan pada bulan Juni selama satu bulan. Dua minggu pertama digunakan untuk pelaksanaan program kerja dan dua minggu berikutnya untuk evaluasi. Program yang dijalankan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan, pembuatan tempat sampah percontohan, hingga pembangunan WC percontohan.

“Evaluasi PBL II mencakup keberhasilan program, hambatan di lapangan, tingkat penerimaan masyarakat, serta peningkatan pengetahuan masyarakat yang diukur melalui pre-test dan post-test,” terangnya.

Selain itu, mahasiswa juga dilatih keterampilan komunikasi dengan masyarakat, perancangan media penyuluhan, serta kerja sama tim. Seluruh rangkaian PBL ditutup dengan seminar hasil di kampus sebagai bagian dari evaluasi akademik.

“Mahasiswa diingatkan untuk mempersiapkan materi dengan baik, menurunkan ego dalam kerja kelompok, serta berbagi peran dan tanggung jawab, terutama dalam penginputan dan pengolahan data agar hasil akhir lebih akurat,” tutup Nurmaladewi. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA