BritaTop.Com, KENDARI- Sejak diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo pada Kamis (22/10/2020) silam. Jembatan Teluk Kendari (JTK) yang panjangnya 1,34 Km, menghubungkan Kota Lama dengan Bungkutoko di Kecamatan Poasia di Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Jembatan yang menghabiskan anggaran sebesar Rp804 miliar ini tentunya memberikan manfaat yang begitu besar bagi masyarakat. Terutama konektivitas dan mobilitas masyarakat.
Sayangnya, akhir- akhir sebagian orang mengalihfungsikan jembatan ini menjadi lokasi yang dianggap tepat untuk mengakhiri hidup oleh sejumlah individu yang diduga mengalami tekanan mental berat.
Berdasarkan data yang dihimpun media ini, terdapat tujuh kasus percobaan bunuh diri dengan rentang usia 19- 32 tahun, modusnya melompat dari Jembatan Teluk Kendari. Empat berujung kematian dan 3 lainnya berhasil diselamatkan Tim Medis dan Tim Pemantau JTK di Kendari.
Angka tersebut menempatkan JKT menjadi salah satu jembatan di Indonesia dengan korban jiwa terbanyak. Fenomena memilukan ini tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi alarm keras atas kondisi kesehatan mental masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Banyak yang berharap bahwa kejadian serupa tidak terulang kembali, tentu dengan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah setempat dan dukungan masyarakat serta stakeholder terkait. Psikolog Klinis dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kendari, Astri Yunita, menekankan pentingnya peran orang-orang terdekat dalam memberikan pertolongan psikologis pertama terhadap individu yang menunjukkan tanda-tanda gangguan mental serius, termasuk keinginan untuk bunuh diri.
“Tanda-tandanya bisa berupa penarikan diri dari lingkungan sosial, perubahan perilaku secara drastis, kehilangan motivasi dalam aktivitas harian, atau sering mengucapkan kalimat bernada putus asa. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka tiba-tiba memberikan hadiah sebagai bentuk simbolik perpisahan,” ungkapnya, Senin (2/6/2025).
Namun demikian, Astri mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut tidak bisa diambil secara tunggal sebagai indikator pasti. Diperlukan pemahaman menyeluruh terhadap latar belakang individu, pola asuh keluarga, riwayat trauma, hingga kondisi psikologis sebelumnya.
Sebagai Dosen Jurusan Psikologi Universitas Halu Oleo (UHO), Astri menyarankan agar siapa pun yang melihat orang terdekatnya mengalami gejala depresi berat tidak tinggal diam.
“Jangan membenarkan keinginan mereka untuk menyakiti diri. Kita justru harus hadir secara emosional. Tawarkan bantuan, temani mereka, dengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah bentuk dukungan psikologis awal yang sangat berarti. Lingkungan yang bebas stigma akan sangat membantu proses pemulihan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong agar masyarakat segera menghubungkan individu yang mengalami gejala gangguan mental dengan tenaga profesional, seperti psikolog maupun psikiater.
Saat ini, layanan konseling psikologis di Kota Kendari sudah tersedia di berbagai tempat, mulai dari Rumah Sakit Jiwa Kendari, kampus UHO, hingga UPTD PPA.
Meski jumlah psikolog klinis di kota ini baru sekitar 10 orang, akses layanan masih terbuka luas, tergantung pada kemauan individu dan dukungan keluarga.
“Stigma adalah tantangan besar. Pergi ke psikolog bukan berarti ‘gila’, justru itu adalah bentuk perhatian terhadap kesehatan diri. Kita harus mulai ubah cara pandang ini,” jelas Astri.
Dengan meningkatnya kasus bunuh diri di JTK, masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap lingkungan sosialnya. Deteksi dini dan kehadiran emosional dari orang-orang terdekat bisa menjadi penyelamat nyawa.
Sementara itu, Wakil Ketua 2 PC PMII Kendari, Muhamad Luthfid Anando Aly Roza menyampaikan, bahwa fenomena bunuh diri di JTK bukan insiden tunggal. Katanya, sudah beberapa korban bunuh diri.
“Ini mencerminkan masalah kesehatan mental dan sistem pendukung yang memerlukan tindakan terpadu.” ungkap Ex Ketua BEM UHO 2022 ini.
Oleh karena itu, dirinya menyarankan Pemerintah setempat dan stakeholder terkait agar mampu memasang infrastruktur preventif yang efektif; membangun jaringan dukungan berkelanjutan (pelatihan, hotline, pelayanan kesehatan mental).
Selanjutnya, aktif libatkan seluruh lapisan masyarakat (agama, media, pendidikan, institusi) dalam model bersama; dan terakhir adanya evaluasi dan pemantauan secara berkala untuk respons cepat serta perbaikan berkelanjutan.
“Pendekatan ini akan bukan hanya mengurangi risiko kejadian serupa, tetapi juga meningkatkan penanganan kesehatan mental keseluruhan di Kendari,” pungkasnya. (*)
Tidak ada komentar